Minggu, 19 April 2015

Agen Asuransi : Alat Bantu Jualan (Bag.1)





Sebagai seorang tenaga penjual atau agen asuransi tentunya sudah pernah ataupun sering bepergian ke luar kota menjalankan misi penjualan dengan harapan bisa mendapatkan nasabah sebanyak mungkin untuk mencapai bahkan kalau perlu dapat melampaui target penjualan pada tahun yang bersangkutan.

Ada beberapa alasan utama seorang agen asuransi melakukan hal ini,  demi untuk  alasan  peningkatan jumlah income, demi untuk meraih kesempatan jalan-jalan, baik yang di dalam ataupun yang ke luar negeri yang biasanya diberikan oleh kantor agensi untuk setiap agen yang berprestasi, ataupun untuk alasan mengejar sisa target penjualan yang diperlukan agar agen yang bersangkutan bisa naik ke level yang  lebih tinggi. Apapun alasannya, yang pasti untuk mewujudkan semua itu, segala sesuatunya membutuhkan persiapan dan perencanaan yang tepat agar apa yang diharapkan bisa dicapai segera dan maksimal.


Bagi anda yang baru menjalani profesi sebagai agen asuransi, tentunya masih membutuhkan informasi tentang apa saja yang diperlukan dalam proses penjualan produk asuransi. Tips berikut untuk membantu anda memilih alat bantu penjualan yang perlu anda bawa setiap melakukan kegiatan penjualan.
Mempersiapkan Alat Bantu Jual
Bagi saya, perjalanan ke kota tujuan atau lokasi penjualan selama ini selalu dilakukan keluar pulau, jadi saya melakukan perjalanan itu dengan menggunakan transportasi pesawat udara, dengan pertimbangan waktu tiba yang lebih cepat dan biaya yang terpaut tidak terlampau jauh dengan biaya bila menggunakan transportasi lain. Namun tentunya pemilihan alat transportasi ini tergantung pula dari pertimbangan terbaik yang menjadi pilihan kita masing-masing. Oleh karena itu yang saya uraikan berikut ini hanya berdasar atas pengalaman pribadi saat bepergian dengan kondisi saya saat itu.

Persiapan yang baik sangat diperlukan, menyangkut kuantitas dari alat-alat bantu jual yang akan di bawa. Tentunya perlu untuk menyortir apa saja yang benar-benar penting. Perlu untuk memilah perlengkapan alat bantu primer dan sekunder. Yang saya maksudkan dengan perlengkapan alat bantu primer di sini adalah perlengkapan yang mesti ada, karena menjadi perlengkapan utama dari penjualan dan harus segera dipenuhi. Jika ada dari perlengkapan primer ini yang terlupakan atau tidak bekerja ataupun rusak, maka akan bisa menghambat kinerja dalam menjual atau bisa menghilangkan kesempatan mendapatkan nasabah. Adapun perlengkapan alat bantu jual primer yang selalu wajib saya bawa meliputi :
             1. SPAJ
             2. Brosur
             3.  Laptop/ Notebook
             4. Printer
             5. Kamera
             6. Ponsel
             7. Calculator Financial Consultant

Untuk perlengkapan sekunder yakni yang bisa dipertimbangkan untuk dibawa ataupun tidak, namun tidak akan terlalu mempengaruhi penjualan yang saya lakukan. Inilah yang menjadi perhatian sasaran penyortiran saya, untuk alasan mengurangi berat bawaan dan menghindari over baggage di airport, seperti misalnya;
             1. Kertas print, bisa diperoleh di lokasi nantinya.
             2. Amplop pengiriman dokumen
             3. Sales Kit Modul – bisa dipertimbangkan untuk tidak membawanya dalam bentuk
                 fisik berupa bundelan modul, namun mengganti dengan membawanya dalam bentuk
                 lebih praktis berupa file gambar dengan cara men-scan-nya terlebih dahulu yang
                 nantinya disimpan dalam gadget.

Setelah proses ini dilakukan, perlu untuk memilih carrier-nya agar kondisi barang bawaan kita ini benar-benar terjamin keselamatannya dan nantinya tidak mengalami kerusakan ataupun hilang dalam perjalanan ke lokasi tujuan kita.

Apakah anda membutuhkan tas atau koper untuk semua barang bawaan anda tersebut, tergantung keputusan anda dalam memilih. Bagi saya sendiri, setelah menyortir secara detil barang yang akan saya bawa, saya pilih yang bisa untuk dibagasikan, disatukan ke dalam koper SAXOLINE Iconic PENCIL Silver 49 - Trolley Small saya, biasanya berbagai dokumen termasuk SPAJ masih bisa masuk ke dalam koper ini.


Sedangkan untuk notebook dan perlengkapan alat bantu lain yang bisa dibawa langsung ke kabin pesawat, saya simpan dalam UNIQUE Backpack [TN-U-S2] - Red/Black.

Pilihan saya pada backpack ini karena selain warnanya yang saya sukai (dan sesuai juga dengan warna dasar perusahaan asuransi saya), penggunaannya juga nyaman dan sudah menampung semua kebutuhan saya di dalamnya. Khusus untuk printer sendiri, saya tempatkan dalam TONGA Backpack [11MH005308] - Red/Black (C) yang bisa muat untuk ukuran printer yang portable.

Itu semua yang saya perlukan dan bawa saat melakukan perjalanan menjual ke suatu daerah. Silahkan terus membaca artikel bag.2 dari Alat Bantu Jualan ini. Selamat membaca.
 



Sabtu, 11 April 2015

Mengenal Reinsurance




Oleh :  Yustinus Dalle Edhie


Reinsurance adalah istilah yang digunakan saat satu perusahaan asuransi melindungi dirinya terhadap resiko asuransi (risk insurance) dengan memanfaatkan jasa dari perusahaan asuransi lain. Terdapat banyak alasan yang menyebabkan perusahaan asuransi melakukan reinsurance. Pembagian resiko adalah salah satu alasan reinsurance.



 Jika perusahaan asuransi berpendapat bahwa nilai asuransi suatu premi lebih besar daripada nilai yang dapat ditanggungnya, maka ia dapat membagi resiko yang dihadapinya dengan mengasuransikan kembali sebagian nilai itu pada perusahaan reinsurance (pada dasarnya hal ini mirip dengan tidakan hedging pada industri keuangan lainnya). Dengan dilakukannya reinsurance ini, pada dasarnya perusahaan asuransi telah melakukan perlindungan terhadap kestabilan tingkat pendapatannya karena reinsurance telah melindunginya dari potensi kerugian yang besar. Alasan lain adalah untuk mendapatkan keuntungan sebagai perantara dengan mengasuransikan kembali pada perusahaan reinsurance dengan premi yang lebih rendah daripada tingkat premi yang dikenakan perusahaan asuransi itu sendiri pada pelanggannya. 

Terdapat dua tipe jenis reinsurance, yaitu reinsurance proporsional dan non-proporsional. Reinsurance proporsional adalah reinsurance dimana perusahaan reinsurance mengambil alih resiko klaim secara proporsional berdasarkan klaimnya. Semisal jika telah ada perjanjian reinsurance proporsional antara perusahaan asuransi dengan perusahaan reinsurance sebesar 40%, maka jika terjadi klaim dari pemegang polis maka perusahaan asuransi hanya perlu mengeluarkan dana sebesar 60% dari jumlah klaim, sementara sisa 40% dari klaim akan ditanggung oleh perusahaan reinsurance tersebut. Untuk jenis reinsurance non-proporsional, biasanya perusahaan reinsurance akan menanggung klaim diatas batas maksimal yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. Semisal jika perusahaan asuransi dan perusahaan reinsurance telah membuat perjanjian untuk menanggung klaim diatas batas 1 milyar, maka jika ada klaim sebesar 800 juta, maka perusahaan asuransi akan menanggung seluruh klaim yang diajukan tersebut. Sebaliknya jika terdapat klaim sebesar 4 milyar, maka perusahaan asuransi hanya menanggung sesuai perjanjiannya, yaitu 1 milyar dan sisanya akan ditanggung oleh perusahaan reinsurance tersebut.

Hampir semua reinsurance melibatkan lebih dari satu perusahaan reinsurance, hal ini berkaitan dengan distribusi resiko. Perusahaan reinsurance yang menentukan kondisi-kondisi kontrak dan premi reinsurance disebut lead insurer, sementara perusahaan reinsurance lain yang ikut ambil bagian dalam kontrak itu disebut following reinsurer.